Laboratorium parasitologi dengan mikroskop untuk pemeriksaan STH
Materi Parasitologi

Soil Transmitted
Helminth

Materi edukasi komprehensif tentang cacing parasit yang ditularkan melalui tanah

Disusun oleh: dr Henny Kartikawati, MKes, SpTHT-KL

Pendahuluan

Memahami dasar-dasar Soil Transmitted Helminth dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat

0 juta

Orang terinfeksi di dunia

0 spesies

Spesies utama STH

0%

Prevalensi di daerah tropis

Apa itu Soil Transmitted Helminth?

Soil Transmitted Helminth (STH) adalah kelompok cacing parasit usus yang habitatnya di usus manusia dan siklus hidupnya melibatkan tanah sebagai tempat pematangan telur atau larva sebelum menginfeksi manusia.

Kelompok ini sangat penting secara kesehatan masyarakat, terutama di Indonesia, karena prevalensi tinggi akibat faktor lingkungan, sanitasi, dan perilaku masyarakat. Infeksi bisa asimptomatik hingga berat dengan gejala lokal pada usus atau sistemik yang dapat menyebabkan kematian, tergantung pada spesies, jumlah cacing, dan kondisi inang.

Infeksi terjadi melalui konsumsi telur infektif (pada makanan, air, atau tangan yang terkontaminasi) atau penetrasi larva melalui kulit (terutama pada cacing tambang dan Strongyloides).

Jenis-Jenis STH

Empat spesies utama Soil Transmitted Helminth yang menginfeksi manusia

Morfologi Ascaris lumbricoides - Cacing Gelang

Cacing Gelang

Ascaris lumbricoides

Cacing dewasa terbesar di usus, berbadan bulat memanjang, warna putih kekuningan. Jantan 15-30 cm, betina 22-35 cm. Infeksi melalui telur di tanah atau makanan.

Morfologi Trichuris trichiura - Cacing Cambuk

Cacing Cambuk

Trichuris trichiura

Cacing dewasa mirip cambuk, jantan 30-45 mm, betina 30-50 mm. Telur berkembang di tanah selama 3-4 minggu. Hidup di sekum dan usus besar.

Morfologi Necator americanus & Ancylostoma duodenale - Cacing Tambang

Cacing Tambang

Necator americanus & Ancylostoma duodenale

Dewasa kecil (8-11 mm), hidup di usus halus. Larva menembus kulit dan bermigrasi ke usus halus. Mengisap darah menyebabkan anemia.

Morfologi Strongyloides stercoralis - Cacing Benang

Cacing Benang

Strongyloides stercoralis

Cacing betina dalam mukosa duodenum (2,2 mm), sangat halus. Dapat auto-infeksi. Infeksi berulang melalui penetrasi kulit atau mukosa kolon.

Morfologi

Karakteristik morfologi dan mikroskopis dari masing-masing spesies STH

Ascaris lumbricoides(Cacing Gelang)

Detail Morfologi

  • Cacing dewasa terbesar di usus manusia
  • Berbadan bulat memanjang, warna putih kekuningan
  • Jantan: panjang 15-30 cm
  • Betina: panjang 22-35 cm
  • Telur bulat/oval, berdinding tebal, ukuran 60×45 μm
  • Telur berisi massa sel yang belum membelah (saat keluar bersama tinja)

Trichuris trichiura(Cacing Cambuk)

Detail Morfologi

  • Cacing dewasa mirip cambuk (whip-shaped)
  • Jantan: panjang 30-45 mm
  • Betina: panjang 30-50 mm
  • Bagian anterior halus (3/5 panjang tubuh)
  • Telur berbentuk tempayan/tong, ukuran 50×25 μm
  • Operkulum (sumbat mucoid) di kedua kutub

Cacing Tambang (Hookworm)(Necator americanus & Ancylostoma duodenale)

Detail Morfologi

  • Dewasa berukuran kecil (8-11 mm)
  • Necator: bentuk S (S-shaped)
  • Ancylostoma: bentuk C (C-shaped)
  • Scolex dengan alat mulut berbeda antara kedua spesies
  • Telur oval transparan, ukuran 40×60 μm
  • Memiliki gigi kitin (Ancylostoma) atau pelat pemotong (Necator)

Strongyloides stercoralis(Cacing Benang)

Detail Morfologi

  • Cacing betina sangat halus seperti benang, tidak berwarna
  • Panjang betina parasitik: ~2,2 mm
  • Hidup dalam mukosa duodenum
  • Cacing jantan hidup bebas di tanah
  • Telur: 50-60 × 30-35 μm
  • Larva rhabditiform ditemukan dalam tinja segar

Siklus Hidup

Tahapan siklus hidup dari masing-masing spesies STH

Diagram siklus hidup Soil Transmitted Helminth

Diagram umum siklus hidup Soil Transmitted Helminth

Ascaris lumbricoides

  1. 1Telur infektif tertelan melalui makanan atau air yang terkontaminasi
  2. 2Larva menetas di usus halus
  3. 3Larva menembus dinding usus → pembuluh darah → hati → paru
  4. 4Larva menembus alveoli, naik ke trakea via bronkiolus dan bronkus
  5. 5Dari faring, larva tertelan kembali ke esofagus
  6. 6Larva tiba di usus halus dan berkembang menjadi cacing dewasa
  7. 7Cacing dewasa menghasilkan telur yang keluar bersama tinja
  8. 8Telur memerlukan pematangan di tanah selama 20-24 hari

Trichuris trichiura

  1. 1Telur keluar bersama tinja dalam keadaan belum matang (tidak infektif)
  2. 2Di tanah, telur matang dalam waktu 3-5 minggu
  3. 3Telur infektif tertelan oleh manusia
  4. 4Larva menetas di usus halus
  5. 5Larva bermigrasi ke sekum dan usus besar
  6. 6Cacing dewasa memasukkan bagian anterior ke mukosa usus
  7. 7Cacing hidup beberapa tahun dalam usus besar/halus

Cacing Tambang (Hookworm)

  1. 1Telur keluar bersama tinja ke tanah
  2. 2Dalam 1-1,5 hari, telur menetas menjadi larva rhabditiform (tidak infektif)
  3. 3Dalam ±3 hari, larva berkembang menjadi larva filariform (infektif)
  4. 4Larva filariform menembus kulit (biasanya kaki)
  5. 5Masuk pembuluh darah dan limfe → jantung kanan → paru
  6. 6Naik ke bronkus → trakea → laring
  7. 7Tertelan menuju usus halus dan menjadi dewasa
  8. 8Cacing dewasa mengisap darah di jejunum/duodenum

Strongyloides stercoralis

  1. 1Telur menetas di mukosa usus menjadi larva rhabditiform
  2. 2Larva rhabditiform keluar bersama tinja
  3. 3Di tanah: larva menjadi larva filariform (infektif)
  4. 4Larva filariform menembus kulit manusia
  5. 5Siklus migrasi seperti cacing tambang (paru → usus)
  6. 6Autoinfeksi: larva di kolon dapat langsung menembus mukosa
  7. 7Hiperinfeksi dapat terjadi pada penderita imunosupresi

Gejala Klinis

Manifestasi klinis dari masing-masing infeksi STH

Ascaris lumbricoides

Cacing Gelang

  • Ringan: biasanya asimptomatik
  • Sindrom Löffler: batuk, demam, sesak napas (saat migrasi larva ke paru)
  • Sakit perut, mual, muntah
  • Obstruksi usus (pada infeksi berat)
  • Peritonitis
  • Malnutrisi dan anemia
  • Alergi (urtikaria, gatal-gatal)

Trichuris trichiura

Cacing Cambuk

  • Ringan: sering asimptomatik
  • Diare bercampur darah
  • Sakit perut dan tenesmus
  • Prolaps rektum (pada infeksi berat)
  • Anemia defisiensi besi
  • Retardasi pertumbuhan pada anak

Hookworm

Cacing Tambang

  • Ground itch: gatal dan dermatitis di tempat penetrasi kulit
  • Batuk dan gejala respirasi saat migrasi larva
  • Anemia defisiensi besi (berat)
  • Malnutrisi dan kelelahan
  • Sesak napas
  • Pertumbuhan terhambat pada anak

Strongyloides stercoralis

Cacing Benang

  • Luka dan gatal di kulit (larva currens)
  • Nyeri perut dan gangguan lambung-usus
  • Diare menahun
  • Infeksi kronis yang berlangsung lama
  • Hiperinfeksi pada imunosupresi (bisa fatal)
  • Pneumonia dan sepsis (pada kasus berat)

Diagnosis

Metode pemeriksaan dan diagnosis infeksi STH

Pemeriksaan mikroskopis tinja untuk deteksi telur cacing

Pemeriksaan Laboratorium

Diagnosis definitif STH dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis tinja untuk menemukan telur atau larva cacing. Teknik Kato-Katz adalah metode standar WHO untuk survei epidemiologis.

Tingkat infeksi dikategorikan ringan, sedang, dan berat berdasarkan jumlah telur per gram tinja (EPG). Tindakan diagnosis laboratorium sangat penting untuk identifikasi spesifik parasit.

Metode Diagnosis

Pemeriksaan Mikroskopis Tinja

Metode utama untuk mendeteksi telur cacing dalam sampel tinja. Teknik yang digunakan meliputi metode langsung (direct smear), metode flotasi, dan metode Kato-Katz untuk menghitung jumlah telur per gram tinja (EPG).

Relevan: Semua spesies STH

Tes Darah (Eosinofilia)

Peningkatan eosinofil dalam darah perifer dapat mengindikasikan infeksi parasit. Terutama bermakna pada fase migrasi larva dan pada infeksi Strongyloides.

Relevan: Terutama Strongyloides & fase migrasi

Pemeriksaan Klinis

Diagnosis berdasarkan gejala klinis seperti anemia, prolaps rektum, ground itch, dan gejala respirasi. Riwayat tinggal di daerah endemis sangat membantu diagnosis.

Relevan: Semua spesies

Biakan Larva

Metode Harada-Mori atau biakan agar untuk menumbuhkan larva dari tinja. Penting untuk membedakan spesies cacing tambang (Necator vs Ancylostoma) dan mendeteksi Strongyloides.

Relevan: Hookworm & Strongyloides

Diagnosis per Spesies

SpesiesCara Diagnosis
Ascaris lumbricoidesMenemukan telur dalam tinja, larva dalam sputum, atau cacing dewasa keluar dari mulut/anus.
Trichuris trichiuraMenemukan telur berbentuk tempayan dalam tinja atau cacing dewasa di anus/prolaps rektum.
HookwormTelur dalam tinja (tidak dapat membedakan Necator/Ancylostoma). Biakan larva diperlukan untuk identifikasi spesies.
Strongyloides stercoralisLarva rhabditiform dalam tinja segar atau cairan duodenum. Pemeriksaan serial tinja direkomendasikan.

Terapi

Pengobatan farmakologis untuk masing-masing infeksi STH

Ascaris lumbricoides

ObatDosisEfektivitas
Albendazole
400 mg dosis tunggalSangat efektif
Mebendazole
100 mg 2x/hari selama 3 hari atau 500 mg dosis tunggalSangat efektif
Pyrantel pamoate
10 mg/kg BB dosis tunggalEfektif
Levamisole
2,5 mg/kg BB dosis tunggalEfektif
Piperazine
75 mg/kg BB/hari selama 2 hariEfektif

Trichuris trichiura

ObatDosisEfektivitas
Mebendazole
100 mg 2x/hari selama 3 hariObat pilihan utama
Mebendazole (massal)
600 mg dosis tunggalUntuk pengobatan massal
Albendazole
400 mg dosis tunggalAlternatif

Catatan: Thiabendazole tidak efektif untuk Trichuris.

Hookworm (Cacing Tambang)

ObatDosisEfektivitas
Albendazole
400 mg dosis tunggalObat pilihan utama
Mebendazole
100 mg 2x/hari selama 3 hariEfektif
Pyrantel pamoate
10 mg/kg BB selama 3 hariEfektif
Tetrachlorethylene
Sesuai petunjuk dokterAlternatif

Catatan: Anemia perlu diterapi bersamaan dengan suplementasi besi.

Strongyloides stercoralis

ObatDosisEfektivitas
Thiabendazole
25 mg/kg BB 2x/hari selama 2-3 hariObat pilihan utama
Ivermectin
200 μg/kg BB/hari selama 1-2 hariSangat efektif
Mebendazole
100 mg 2x/hari selama 3 hariAlternatif

Catatan: Pada hiperinfeksi, pengobatan harus lebih agresif dan berkepanjangan.

Informasi Penting

  • Pengobatan massal (Mass Drug Administration) dilakukan bila prevalensi tinggi di suatu daerah.
  • Albendazole dan Mebendazole adalah obat lini pertama yang direkomendasikan WHO.
  • Terapi suportif (suplementasi besi, nutrisi) penting terutama pada infeksi hookworm.

Pencegahan

Langkah-langkah pencegahan infeksi Soil Transmitted Helminth

Perbaikan Sanitasi

  • Penggunaan jamban yang memadai
  • Hindari buang air besar sembarangan
  • Perbaikan sistem pembuangan limbah
  • Penyediaan air bersih

Kebersihan Diri

  • Cuci tangan dengan sabun sebelum makan
  • Cuci tangan setelah dari toilet
  • Potong kuku secara teratur
  • Jaga kebersihan tubuh secara umum

Kebersihan Makanan

  • Cuci sayuran dan buah dengan bersih
  • Masak makanan dengan sempurna
  • Hindari makan sayur mentah tanpa dicuci
  • Tutup makanan dari lalat dan debu

Perlindungan Kulit

  • Gunakan alas kaki saat berjalan di tanah
  • Hindari kontak langsung kulit dengan tanah yang terkontaminasi
  • Penting terutama untuk pencegahan cacing tambang dan Strongyloides

Kebersihan Lingkungan

  • Hindari kontaminasi tanah dengan tinja
  • Pengolahan limbah yang tepat
  • Perbaikan kondisi perumahan
  • Pengelolaan sampah yang baik

Edukasi & Pengobatan

  • Pendidikan kesehatan masyarakat
  • Pengobatan penderita secara rutin
  • Pengobatan massal di daerah endemis
  • Peran tenaga medis dalam edukasi sangat krusial

“Pencegahan dan pengobatan dini sangat penting. Peran tenaga medis dalam edukasi dan pengobatan sangat krusial.”

— Kesimpulan materi STH